Antara Puasa dan Merdeka
By : Unknown
Jakarta, 17 Agustus 1945

Pukul 10.00 WIB, Warga berbondong-bondong pergi ke kediaman Bapak Ir. Soekarno. Di Jum'at legi kali ini matahari mengikikis kulit sawo mereka. Siapa sangkah? ternyata hari ini Bapak Hatta dkk lagi berpuasa setelah Begadang hingga shubuh tuk prepare menjelang Hari Kemerdekaan.
Sebelumnya, Pak Karno dan Pak hatta dkk sempat saber (Sahur bareng) di rumah laksamana maeda.
Pak Karno berpuasa? Menurut Dokter pribadinya pak karno tak puasa karena beliau terlanjur memasukkan sesuatu di rongga mulutnya.
Pukul 08.00 WIB, pak Karno tidur nyenyak, tubuh pak karno tak enak badan, pak Karno mengidap gejala malaria tertiana; malaria yang tidak berbahaya, tetapi jika tidak dirawat dapat juga merengut nyawa.
Pukul 09.00 WIB, pak karno terbangun tidurnya."pating greges; Ungkapan dalam bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai “kondisi badan yang pegal-linu karena gelaja demam." ujar pak karno. Dr Soeharto;dokter pribadinya memberinya suntikan chinine-urethan intramusculair, dan meminta Bung Karno meminum broom chinine dan kembali beranjak tidur. saat keluar kamar Dokter Soeharto berpapasan denagn Bu Fatmawati dan melaporkan apa yg telah terjadi. “Saya sendiri sebetulnya juga capek sekali setelah kembali dari Rengasdengklok dan menyelesaikan pembuatan bendera yang akan dikibarkan hari ini.” ungkapna pada dokter soeharto.
Pukul 09.30 WIB, “sudah jam setengah sepuluh mas…” kata Dokter Soeharto sehabis itu, Bung Karno berkata, “Minta Hatta segera datang.” Dr. Soehartopun segera menemui Latief Hendraningrat tuk sampaikan amanatnya. Bung Karno mempersiapkan diri demi momentum paling bersejarah bagi bangsa kita. Ia berpakaian rapi, mengenakan busana serba putih: celana lena putih dan kemeja putih dengan potongan yang populer disebut “kemeja pimpinan”. Lengannya panjang, bersaku empat, dengan band pinggang di belakang. Ia begitu gagah, penuh percaya diri.

Pukul 10.00 WIB, di serambi rumah kecilnya. Pak Karno berkata, "Saudara-saudara sekalian
Saya telah minta Saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan Tanah Air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.

Pukul 10.00 WIB, Warga berbondong-bondong pergi ke kediaman Bapak Ir. Soekarno. Di Jum'at legi kali ini matahari mengikikis kulit sawo mereka. Siapa sangkah? ternyata hari ini Bapak Hatta dkk lagi berpuasa setelah Begadang hingga shubuh tuk prepare menjelang Hari Kemerdekaan.
Sebelumnya, Pak Karno dan Pak hatta dkk sempat saber (Sahur bareng) di rumah laksamana maeda.
Pak Karno berpuasa? Menurut Dokter pribadinya pak karno tak puasa karena beliau terlanjur memasukkan sesuatu di rongga mulutnya.
Pukul 08.00 WIB, pak Karno tidur nyenyak, tubuh pak karno tak enak badan, pak Karno mengidap gejala malaria tertiana; malaria yang tidak berbahaya, tetapi jika tidak dirawat dapat juga merengut nyawa.
Pukul 09.00 WIB, pak karno terbangun tidurnya."pating greges; Ungkapan dalam bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai “kondisi badan yang pegal-linu karena gelaja demam." ujar pak karno. Dr Soeharto;dokter pribadinya memberinya suntikan chinine-urethan intramusculair, dan meminta Bung Karno meminum broom chinine dan kembali beranjak tidur. saat keluar kamar Dokter Soeharto berpapasan denagn Bu Fatmawati dan melaporkan apa yg telah terjadi. “Saya sendiri sebetulnya juga capek sekali setelah kembali dari Rengasdengklok dan menyelesaikan pembuatan bendera yang akan dikibarkan hari ini.” ungkapna pada dokter soeharto.
Pukul 09.30 WIB, “sudah jam setengah sepuluh mas…” kata Dokter Soeharto sehabis itu, Bung Karno berkata, “Minta Hatta segera datang.” Dr. Soehartopun segera menemui Latief Hendraningrat tuk sampaikan amanatnya. Bung Karno mempersiapkan diri demi momentum paling bersejarah bagi bangsa kita. Ia berpakaian rapi, mengenakan busana serba putih: celana lena putih dan kemeja putih dengan potongan yang populer disebut “kemeja pimpinan”. Lengannya panjang, bersaku empat, dengan band pinggang di belakang. Ia begitu gagah, penuh percaya diri.

Pukul 10.00 WIB, di serambi rumah kecilnya. Pak Karno berkata, "Saudara-saudara sekalian
Saya telah minta Saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan Tanah Air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
